Liburan kini bukan lagi sekadar soal pergi jauh atau menjejakkan kaki di tempat baru. Semenjak pandemi COVID-19 mengubah cara orang menikmati waktu luang, istilah “staycation” mulai naik daun dan bersanding sejajar dengan “vacation” yang lebih dulu populer. Meski sama-sama punya misi utama—melepaskan diri dari rutinitas dan mencari ketenangan—nyatanya vacation dan staycation punya perbedaan yang cukup mendasar. Tapi, apakah salah satunya lebih baik dari yang lain?
Kita hidup di era di mana tekanan kerja makin besar, beban hidup makin kompleks, dan kebutuhan untuk yukberlibur kabur dari kenyataan menjadi makin penting. Inilah yang bikin konsep liburan makin fleksibel. Nggak semua orang harus terbang ke Bali, Jepang, atau Eropa demi bisa dibilang liburan. Ada juga yang memilih menikmati waktu senggang dari balik jendela kamar hotel di kota sendiri, atau bahkan di rumah sambil nonton Netflix dan maskeran.
Bedanya Vacation dan Staycation
Nah, daripada bingung pilih liburan ala globetrotter atau rebahan penuh gaya, yuk kita bedah lebih dalam apa sebenarnya perbedaan vacation dan staycation, mulai dari konsep, biaya, manfaat, hingga efek psikologisnya. Siapa tahu, setelah baca ini kamu bisa menentukan tipe liburan mana yang paling cocok buat kamu sekarang.
1. Definisi: Kemana vs Di Mana
Vacation secara harfiah berarti “liburan” atau waktu bebas dari pekerjaan atau sekolah. Biasanya, vacation melibatkan perjalanan ke luar kota atau luar negeri untuk menjelajah tempat baru. Tujuannya bisa beragam—mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, hingga belanja atau sekadar jalan-jalan santai.
Sementara itu, staycation adalah gabungan kata “stay” dan “vacation”, artinya liburan tanpa benar-benar pergi jauh. Orang yang staycation biasanya tetap berada di rumah atau menginap di hotel dalam kota, tetapi dengan aktivitas yang menyenangkan dan bersifat menyegarkan pikiran. Fokusnya lebih ke quality time ketimbang eksplorasi tempat baru.
Intinya, vacation itu keluar dari lingkungan biasa, sedangkan staycation adalah menciptakan suasana baru tanpa harus pergi jauh-jauh.
2. Skala dan Biaya: Boros vs Hemat Cerdas
Ngomongin vacation, nggak bisa lepas dari urusan tiket pesawat, akomodasi, transportasi lokal, dan itinerary yang padat. Artinya, biaya vacation relatif lebih tinggi, terutama kalau tujuannya luar negeri atau ke tempat wisata premium. Belum lagi kalau pergi ramean, urusannya jadi makin kompleks—mulai dari koordinasi jadwal hingga kebutuhan anak-anak.
Sebaliknya, staycation terkenal sebagai liburan hemat. Kamu bisa menginap di hotel bintang tiga di tengah kota dengan budget yang jauh lebih ringan dibanding tiket PP ke Bali. Atau malah cuma order makanan enak dan nyalain aromaterapi di kamar sambil nonton serial favorit—udah cukup bikin rileks. Apalagi sekarang banyak promo hotel dan apartment harian yang bisa di-book lewat aplikasi, bikin staycation makin mudah dan murah.
Berdasarkan survei tren liburan di Indonesia 2024, lebih dari 45% responden memilih staycation sebagai alternatif liburan pendek, terutama saat long weekend. Alasannya? Biaya lebih terjangkau dan minim stres perjalanan.
3. Durasi: Mingguan vs Harian
Vacation biasanya dilakukan selama beberapa hari hingga dua minggu. Ada persiapan panjang, izin cuti yang harus diatur, bahkan itinerary harian yang ketat. Ini cocok buat kamu yang ingin “benar-benar lepas” dari dunia nyata dan menyelam dalam pengalaman baru.
Staycation, di sisi lain, bisa dilakukan hanya 1-2 hari, bahkan hanya semalam saja. Fleksibel banget. Ideal untuk orang sibuk yang cuma punya sedikit waktu, tapi tetap ingin recharge mental dan fisik. Kadang, libur sabtu-minggu aja udah cukup untuk staycation tipis-tipis.
4. Dampak Psikologis: Stimulasi vs Relaksasi
Vacation menawarkan stimulasi baru yang menyegarkan. Melihat tempat baru, bertemu orang asing, dan menjajal aktivitas yang belum pernah dicoba bisa membangkitkan semangat, memperluas wawasan, dan bahkan meningkatkan kreativitas. Tapi, sisi negatifnya: kadang vacation malah bikin lelah karena terlalu padat aktivitas.
Staycation justru memberikan efek relaksasi maksimal. Karena tidak perlu perjalanan jauh, tubuh lebih santai. Fokusnya bukan di mana kamu berada, tapi bagaimana kamu menikmati waktu secara perlahan. Staycation bisa bantu menurunkan level stres dan memberi ruang untuk introspeksi diri, terutama jika kamu memilih aktivitas seperti meditasi, journaling, atau sekadar tidur nyenyak seharian.
Menurut psikolog, orang yang melakukan staycation secara rutin cenderung punya tingkat burnout lebih rendah, karena punya jeda emosional secara berkala di tengah kesibukan.
5. Kepraktisan dan Fleksibilitas: Petualangan vs Kendali Penuh
Saat vacation, kita rentan pada ketidakpastian—macet, delay, cuaca buruk, atau itinerary yang berubah. Buat sebagian orang, itu serunya. Tapi buat yang mudah stres, vacation bisa jadi bumerang.
Staycation justru menawarkan kendali penuh atas pengalamanmu. Kamu bisa atur semuanya sesuai mood—mau bangun siang, pesan makan lewat aplikasi, atau berendam air hangat tanpa batas waktu. Gak ada target tempat yang harus dikunjungi. Nggak ada “FOMO” karena nggak update story dari tempat hits. Semua berjalan sesuai tempo yang kamu butuhkan.
Jadi, Liburan Mana yang Cocok Buatmu?
Pilih vacation jika:
-
Kamu butuh pengalaman baru dan ingin “keluar” dari rutinitas secara total.
-
Punya waktu dan budget lebih untuk eksplorasi.
-
Ingin membuat kenangan bersama keluarga atau pasangan di tempat yang belum pernah dikunjungi.
Pilih staycation jika:
-
Waktumu terbatas, tapi kamu butuh recharge cepat.
-
Ingin menghindari keramaian dan perjalanan panjang.
-
Lebih suka suasana tenang, nyaman, dan privat.
Faktanya, dua-duanya bisa saling melengkapi. Di awal tahun, kamu bisa vacation ke tempat impian, lalu di tengah kesibukan kerja, kamu ambil staycation singkat untuk menjaga kesehatan mental.

Priyo Harjiyono, S.Pd, M.Kom, Gr adalah seorang guru SMK yang mengajar sejak 2010, saat ini selain mengajar juga menjadi seorang blogger di berbagai website pribadi, menjadi SEO Specialist di Perusahaan crypto internasional, pernah mengajar sebagai asisten dosen di UNY, sering menjadi narasumber bidang digital marketing UMKM
Ingin produk/website Anda kami ulas? Silahkan klik tombol dibawah ini





