Perbedaan Bioteknologi Konvensional dan Modern

Bioteknologi, gencar dilakukan di akhir-akhir ini. Cabang ilmu Biologi ini, suda ada di zaman dahulu, dan bisa kita lihat dalam teknologi pangan, sejak abad ke-19. Dari sini, manusia sudah menerapkan yang namanya pemuliaan tanaman.

Tujuan dari bioteknologi, adalah menghasilkan varietas baru, lebih unggul, dan bermanfaat. Bioteknologi, dibedakan menjadi dua, yaitu bioteknologi konvensional, dan bioteknologi modern. Perbedaan paling mendasar dari 2 jenis itu, adalah lebih ke pendekatan dan teknik yang dipakai.

Secara Ilmu

1. Bioteknologi Konvensional

Ruang lingkup dari Bioteknologi Konvensional adalah, terlihat pada fungsi mikroorganisme secara utuh,  dan tanpa proses rekayasa. Teknik fermentasi yang dipakai, menggunakan skala kecil dan proses pengembangan serta pembuatannya lebih sering menggunakan alat-alat sederhana.

Terdapat beberapa produk, hasil dari sektor pangan, seperti kecap, tape, tempe, yogurt, oncom, brem, dan keju. Bioteknologi ini, juga digunakan dalam industri pertanian (tanaman hidroponik) serta di farmasi maupun kedokteran (pembuatan antibiotik).

Ilmu dan keahlian dalam Bioteknologi konvensional, bisa dipelajari secara autodidak. Bila harus dipelajari melalui pelatihan atau lembaga khusus, maka biasanya ada biaya yang haus dibayar untuk pelatihan tersebut.

2. Bioteknologi Modern

Bioteknologi modern, mengacu pada penerapan yang lebih baru, misalnya dengan rekayasa genetik. Ciri utama dari Bioteknologi ini, adalah menggunakan teknik dan alat modern. Selain itu, hanya digunakan bagian tertentu saja, seperti enzim ataupun DNA dalam mikroorganisme.

Bioteknologi ini, mulai dikembangkan pada masa akhir PD II. Pada 1953, model struktur DNA dipopulerkan oleh FHC Crick dan JD Watson, dan dikenal dengan nama Double Helix Model of DNA. Model tersebut, dapat menjelaskan bermacam-macam fenomena yang ada pada DNA.

Beberapa pengaplikasiannya yang bisa dilihat:

  1. IVF atau metode bayi tabung.
  2. Tumbuhan transgenik tahan hama, dan pembuatan vaksin.
  3. Pembuatan hormon insulin, dan lain sebagainya.
Artikel Terkait  Perbedaan Sistem Operasi Jaringan dan Desktop

Perbedaan Bioteknologi Konvensional dengan Bioteknologi Modern

Berikut, bisa dilihat dalam tabel:

No. Aspek Bioteknologi Konvensional Bioteknologi Modern
1. Teknik Fermentasi Rekayasa genetika dan teknologi reproduksi.
2. Penerapan pada makhluk hidup Utuh dan langsung Menggunakan hanya sebagian
3. Keahlian Membutuhkan keahlian khusus, tetapi levelnya ringan dan masih dipelajari autodidak. Butuh ahli yang memang kompeten dalam bidang Bioteknologi
4. Skala produksi dan biaya Skala produksi relatif sedikit dan lebih terjangkau harganya. Biasanya diproduksi dalam jumlah banyak dan harganya lebih mahal
5. Alat dan proses Sederhana Menggunakan alat mutakhir dan sudah canggih.
6. Contoh

 

Roti, tape, soju, alkohol, kecap, yogurt, dll. Tumbuhan transgenik, rekayasa jaringan, sel punca, kloning DNA, prodil DNA, analisis genom, dll.

Kebutuhan SDM akan Ahli Bioteknologi

Kebutuhan akan tenaga atau yang ahli dalam ilmu Bioteknologi, sangat diperlukan bagi Indonesia. Adanya teknologi dalam ilmu Biologi ini, untuk meningkatkan jumlah induk sapi kembar. Tujuan dari bioteknologi ini, adalah untuk menambah populasi sapi potong agar target swasembada tercapai.

Bioteknologi, juga bisa dipakai untuk bidang bio-refinery, farmasi, serta pertanian. Ilmu ini, membuka solusi, dengan melakukan penemuan obat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit genetik, seperti AIDS, atau penyakit kronis, seperti kanker dan stroke.

Manfaat dari ilmu ini, membuat SDM di bidang ini, mampu dicari dan memiliki kualitas yang baik. Terdapat juga, kuliah dengan jurusan Bioteknologi, yang khusus memang membahas tentang hal ini. Ketahui, bioteknologi modern, mulai berkembang pesat, dan kebutuhan SDM akan ilmu ini cukup tinggi.

Itulah, penjelasan mengenai perbedaan antara bioteknologi modern dan bioteknologi konvensional. Semoga bermanfaat.

Click to rate this post!
[Total: 0 Average: 0]

Tinggalkan komentar