Kulit adalah lapisan luar tubuh yang paling sering terpapar lingkungan. Oleh karena itu, kulit mudah sekali terserang berbagai jenis infeksi, salah satunya adalah kudis dan kurap. Kedua penyakit kulit ini kerap menimbulkan kebingungan karena gejala awalnya yang tampak serupa, seperti rasa gatal dan munculnya ruam. Namun, keduanya memiliki penyebab yang sangat berbeda, sehingga memerlukan penanganan yang berbeda pula. Mengenal lebih dalam tentang perbedaan kudis dan kurap akan membantu kita mengambil langkah yang tepat dalam mencegah dan mengobati kondisi ini.
1. Apa Itu Kudis dan Kurap?
Secara umum, kudis dan kurap sama-sama menyebabkan infeksi pada kulit, tetapi asal infeksinya berbeda.
Kudis, atau dikenal juga sebagai scabies, adalah kondisi kulit yang disebabkan oleh tungau mikroskopis bernama Sarcoptes scabiei. Tungau ini menggali ke dalam lapisan kulit, meninggalkan lorong kecil di bawah permukaan yang dapat memicu reaksi alergi berupa rasa gatal yang intens. Tungau ini sangat kecil dan hanya bisa dilihat melalui mikroskop, namun dampaknya bisa terasa signifikan.
Di sisi lain, kurap, yang dalam istilah medis dikenal sebagai tinea atau dermatofitosis, adalah infeksi jamur.
Dermatofitosis adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh jenis jamur yang dikenal sebagai dermatofit. Menurut dr. Halim Perdana Kusuma, Sp.DV, jamur penyebab dermatofitosis mudah berkembang di area kulit yang lembap dan berkeringat, kondisi yang umum terjadi pada banyak orang. Infeksi jamur ini sering kali ditandai dengan rasa gatal yang mengganggu serta munculnya ruam di permukaan kulit.
Dokter Halim menjelaskan bahwa lingkungan yang lembap merupakan tempat ideal bagi jamur untuk berkembang biak, termasuk pada kulit manusia. Dermatofitosis dapat menyerang berbagai bagian tubuh, seperti kaki (sering disebut dengan “athlete’s foot”), kulit kepala, dan area lain yang sering lembap atau tertutup. Gejalanya berupa gatal-gatal, kulit bersisik, atau bahkan perubahan warna kulit di area yang terinfeksi.
Jamur ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi atau benda yang telah terkontaminasi jamur, seperti handuk, pakaian, atau permukaan lembap di tempat umum seperti kamar mandi atau gym.
Jamur penyebab kurap dapat hidup di permukaan kulit, kuku, dan bahkan rambut. Berbeda dengan kudis, kurap biasanya menyebabkan ruam berbentuk cincin dengan tepi yang bersisik. Inilah mengapa kurap sering disebut sebagai “ringworm” di dunia medis Barat, meskipun tidak ada hubungan dengan cacing.
2. Penyebab Utama Kudis dan Kurap
Perbedaan terbesar antara kudis dan kurap terletak pada penyebab infeksinya.
Kudis terjadi ketika tungau Sarcoptes scabiei masuk ke kulit. Tungau ini menular melalui kontak fisik langsung dengan penderita kudis atau melalui barang-barang yang dipakai bersama, seperti pakaian, tempat tidur, atau handuk. Tungau bisa bertahan di permukaan benda untuk beberapa waktu, sehingga memudahkan penyebaran, terutama di tempat dengan kebersihan yang kurang terjaga.
Kurap, di sisi lain, disebabkan oleh jamur dermatofit. Jamur ini tumbuh di tempat yang lembap dan hangat, seperti lipatan kulit, kulit kepala, atau kaki (sering disebut “athlete’s foot”). Penularan kurap bisa terjadi melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi atau kontak tidak langsung melalui benda yang sudah terkontaminasi jamur, seperti sisir, pakaian, atau bahkan hewan peliharaan yang terinfeksi.
3. Gejala Kudis vs. Kurap
Meskipun keduanya menyebabkan rasa gatal dan ruam, gejala kudis dan kurap memiliki perbedaan yang mencolok.
Gejala Kudis biasanya dimulai dengan rasa gatal yang semakin parah di malam hari. Gatal ini diakibatkan oleh reaksi alergi terhadap tungau yang bersembunyi di bawah kulit. Di daerah yang terkena, sering terlihat ruam berupa benjolan kecil yang bisa berubah menjadi lepuhan atau luka akibat garukan. Area yang paling sering terinfeksi adalah bagian tubuh dengan lipatan kulit, seperti di antara jari, pergelangan tangan, siku, pinggang, dan bokong.
Sementara itu, gejala Kurap biasanya ditandai dengan ruam berbentuk cincin, dengan bagian tengah kulit yang terlihat normal atau bahkan sembuh, sementara tepinya merah dan bersisik. Kurap bisa muncul di mana saja pada tubuh, tetapi sering ditemukan di kulit kepala, wajah, kaki, atau badan bagian atas. Jika kurap muncul di kulit kepala, kadang dapat menyebabkan kebotakan di area yang terkena karena rambut rontok.
4. Area Tubuh yang Rentan Terinfeksi
Lokasi infeksi juga dapat membantu membedakan antara kudis dan kurap.
Kudis cenderung menyerang daerah-daerah dengan lipatan kulit, seperti sela-sela jari, pergelangan tangan, siku, lutut, pinggang, bokong, dan payudara. Pada anak-anak, kudis bisa lebih meluas hingga ke wajah, kulit kepala, atau telapak tangan dan kaki.
Sebaliknya, kurap dapat muncul di hampir semua bagian tubuh. Namun, ada beberapa jenis kurap yang lebih sering muncul di area tertentu, seperti tinea pedis (kurap di kaki), tinea corporis (kurap di badan), atau tinea capitis (kurap di kulit kepala). Kurap juga cenderung lebih sering muncul di area yang lembap dan hangat, seperti kaki atau ketiak.
5. Cara Diagnosa Kudis dan Kurap
Untuk memastikan diagnosis antara kudis dan kurap, dokter biasanya melakukan beberapa pemeriksaan.
Kudis bisa didiagnosis melalui pemeriksaan fisik. Dokter akan melihat ruam di kulit dan mungkin mengambil sampel kecil dari kulit yang terinfeksi untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dengan mikroskop, tungau penyebab kudis bisa terlihat, mengonfirmasi adanya infeksi.
Kurap biasanya didiagnosis berdasarkan gejala klinis. Untuk memastikan, dokter bisa melakukan tes kultur jamur atau menggunakan lampu khusus yang disebut lampu Wood. Ketika kulit yang terinfeksi kurap diterangi dengan lampu ini, jamur sering terlihat bersinar dengan warna yang berbeda, memudahkan identifikasi.
6. Pengobatan Kudis dan Kurap
Perawatan untuk kudis dan kurap sangat berbeda karena penyebabnya juga berbeda.
Pengobatan Kudis biasanya melibatkan penggunaan obat antiparasit topikal, seperti krim atau lotion yang mengandung permetrin atau ivermectin. Semua anggota keluarga atau orang yang sering kontak dengan penderita juga harus dirawat untuk mencegah penularan ulang. Selain itu, semua pakaian, seprai, dan barang pribadi lainnya harus dicuci dengan air panas untuk membunuh tungau yang mungkin masih menempel.
Pengobatan Kurap, karena disebabkan oleh jamur, melibatkan penggunaan krim antijamur, seperti miconazole atau clotrimazole, yang dioleskan pada kulit yang terkena. Pada kasus yang lebih parah atau jika kurap muncul di kulit kepala, dokter mungkin meresepkan obat antijamur oral. Pengobatan kurap biasanya memakan waktu lebih lama dibandingkan kudis, karena jamur dapat lebih sulit dihilangkan, terutama di area yang berbulu.
7. Pencegahan Kudis dan Kurap
Mencegah kudis dan kurap memerlukan perhatian pada kebersihan dan menjaga jarak dari sumber infeksi.
Untuk mencegah kudis, hindari kontak fisik langsung dengan orang yang terinfeksi dan jangan berbagi barang pribadi, seperti pakaian atau handuk, dengan orang lain. Jaga kebersihan lingkungan sekitar, terutama di rumah atau tempat tinggal yang padat.
Untuk mencegah kurap, penting untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Hindari berbagi barang pribadi seperti handuk, pakaian, atau sepatu. Selalu keringkan area tubuh yang lembap, seperti kaki atau ketiak, setelah mandi atau berkeringat, dan hindari berjalan tanpa alas kaki di tempat umum seperti gym atau kolam renang.
8. Kapan Harus ke Dokter?
Jika gejala kudis atau kurap tidak kunjung sembuh meskipun sudah melakukan perawatan mandiri, atau jika infeksi semakin menyebar, segera konsultasikan dengan dokter. Kudis yang tidak diobati bisa menyebabkan komplikasi lebih lanjut, seperti infeksi bakteri sekunder akibat garukan berlebihan. Kurap yang tidak ditangani dengan baik juga bisa menyebar lebih luas, terutama di kulit kepala, dan dapat menyebabkan kerontokan rambut permanen jika tidak segera diobati.
Memahami perbedaan antara kudis dan kurap sangat penting untuk memastikan penanganan yang tepat. Kudis disebabkan oleh tungau yang menembus kulit, sementara kurap disebabkan oleh infeksi jamur di permukaan kulit. Meskipun gejala awalnya mungkin serupa, pengobatan dan pencegahan kedua penyakit ini berbeda, sehingga mengetahui ciri-ciri spesifik dari masing-masing kondisi akan membantu dalam pemulihan yang lebih cepat dan efektif.

Priyo Harjiyono, S.Pd, M.Kom, Gr adalah seorang guru SMK yang mengajar sejak 2010, saat ini selain mengajar juga menjadi seorang blogger di berbagai website pribadi, menjadi SEO Specialist di Perusahaan crypto internasional, pernah mengajar sebagai asisten dosen di UNY, sering menjadi narasumber bidang digital marketing UMKM
Ingin produk/website Anda kami ulas? Silahkan klik tombol dibawah ini





